Pada tanggal 5 Desember 2025,  31 mahasiswa tingkat pertama BINUS Film, Binusian 29 melaksanakan kunjungan akademik ke Museum MACAN sebagai bagian dari mata kuliah History of Art. Kegiatan ini bertujuan memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa untuk berinteraksi dengan karya seni modern dan kontemporer dalam ruang museum, sekaligus memperluas pemahaman visual mereka melalui pendekatan pembelajaran berbasis observasi. Kegiatan museum visit ini dipandu oleh Pak Ade Rivky, dengan dosen pendamping Irwanto Hamid dan Nick Soedarso yang turut memastikan keterkaitan kunjungan dengan materi mata kuliah yang sedang dipelajari.

Pada periode kunjungan tersebut, Museum MACAN tengah menghadirkan pameran besar dari seniman internasional Olafur Eliasson berjudul “Your Curious Journey.” Olafur Eliasson dikenal luas sebagai seniman yang mengeksplorasi relasi antara cahaya, ruang, persepsi, dan pengalaman manusia. Karya-karya yang dipamerkan menampilkan instalasi imersif yang memadukan fenomena optik, bayangan, warna, dan refleksi untuk menciptakan pengalaman multisensori yang menantang cara pengunjung melihat dan merasakan ruang. Mahasiswa dapat menyaksikan bagaimana Eliasson menggunakan prinsip-prinsip fisika, cahaya alami, material reflektif, dan komposisi ruang untuk menghadirkan pengalaman puitis sekaligus ilmiah. Interaksi dengan instalasi-instalasi ini memberikan wawasan yang relevan dalam studi sinematografi dan estetika film, terutama terkait bagaimana pencahayaan,perspektif, dan atmosfer dapat memengaruhi persepsi penonton.

Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa mengikuti tur terpandu bersama guide museum yang memberikan penjelasan kuratorial mengenai latar belakang artistik Eliasson, konsep yang mendasari setiap karya, serta proses kreatif di balik pameran tersebut. Mahasiswa berperan sebagai pengamat aktif yang menyimak penjelasan dengan seksama sembari memperhatikan detail visual, komposisi ruang, dan aspek teknis yang mendukung pengalaman pameran. Tidak terdapat sesi diskusi terbuka atau aktivitas praktik selama kunjungan, sehingga fokus pembelajaran diarahkan sepenuhnya kepada pemahaman konsep kuratorial dan interpretasi karya berdasarkan narasi yang disampaikan oleh pihak museum. Meskipun interaksi yang terjadi bersifat satu arah, kegiatan tetap berlangsung informatif dan memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bagaimana museum menyusun pengalaman bagi audiens melalui pendekatan kuratorial yang terstruktur.

Namun, melalui pengalaman ini mahasiswa juga memperoleh insight penting mengenai dinamika pembelajaran seni di ruang museum. Beberapa mahasiswa merasakan adanya keterbatasan dalam hal ruang refleksi pribadi dan kesempatan untuk mengembangkan interpretasi mandiri karena alur kunjungan sepenuhnya mengikuti penjelasan dari guide. Hal ini menyoroti pentingnya keseimbangan antara pembelajaran berbasis ceramah dan pendekatan partisipatif, terutama dalam konteks studi seni di mana interpretasi personal memegang peran besar dalam proses memahami karya. Mahasiswa belajar bahwa pemaknaan terhadap karya seni tidak hanya dibentuk oleh narasi kuratorial yang disampaikan, tetapi juga membutuhkan pengamatan independen, refleksi kritis, dan dialog terbuka untuk memperkaya pemahaman mereka.

Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran berharga mengenai peran art mediator dalam membentuk cara audiens berinteraksi dengan karya seni, sekaligus memperlihatkan keterbatasan pendekatan yang terlalu terpusat pada narasi tunggal. Kunjungan ini secara keseluruhan memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai hubungan antara kuratorial, pengalaman ruang, dan interpretasi estetis, sekaligus memberikan inspirasi visual yang dapat diterapkan dalam proses kreatif mereka di bidang film. Melalui interaksi langsung dengan karya Olafur Eliasson, mahasiswa mendapatkan gambaran nyata tentang bagaimana visual, cahaya, dan ruang dapat dimanfaatkan sebagai medium untuk menciptakan pengalaman artistik yang mendalam, sebuah pengetahuan yang relevan bagi perkembangan mereka sebagai pembuat film.